Selasa, 23 Jul 2019

Melepasliarkan Burung Maleo

Oleh: Jallus
Jumat, 26 Apr 2019 09:15
BAGIKAN:
istimewa.
Burung.
PALU (KICAU): Sebanyak 17 ekor burung maleo (Macrocephalon maleo) hasil penangkaran yang dilakukan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), dilepasliarkan ke habitatnya di Taman Suaka Margasatwa Bakiriang, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Siaran pers PT DSLNG yang dikutip di Palu,  menyebutkan bahwa pelepasliaran yang juga untuk memperingati Hari Bumi, 22 April 2019 tersebut, merupakan tradisi sejak penangkaran maleo dimulai pada 2013.

Pelepasliaran satwa endemik Sulawesi yang terancam punah itu dilakukan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah.

Secara keseluruhan, DSLNG telah melepasliarkan 85 anakan maleo hasil konservasi ex situ.

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) No. 180/IV-KKH/2015, populasi burung maleo di alam diperkirakan tersisa kurang dari 600 ekor. Untuk itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan populasi maleo 10 persen atau 55 ekor dalam setiap lima tahun atau 11 ekor setiap tahun.

Melalui konservasi ex situ, DSLNG menjadi perusahaan swasta pertama yang turut berperan penting dalam upaya peningkatan populasi itu.

CSR Manager DSLNG Pandit Pranggana mengemukakan upaya konservasi maleo oleh DSLNG wujud komitmen perusahaan untuk ikut menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.

"Dengan pelepasliaran anakan maleo hasil konservasi, perusahaan turut membantu upaya peningkatan populasi maleo di alam melebihi target yang ditetapkan pemerintah," ujarnya, Jumat 26 April 2019.

Pusat konservasi ex situ maleo didirikan pada 2013 di lokasi kilang LNG Donggi Senoro untuk membantu pemerintah meningkatkan populasi satwa yang menjadi salah satu ikon Sulawesi itu.

Sejak program konservasi dijalankan, DSLNG telah melepasliarkan 85 anakan maleo hasil konservasi dari telur-telur sitaan yang diserahkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah.

Telur-telur sitaan itu kemudian diinkubasi hingga menetas dan tumbuh di kandang-kandang yang tersedia di Maleo Center. Anakan Maleo yang berumur 2-3 bulan itu kemudian dilepasliarkan ke habitat alaminya.

Selain sebagai fasilitas konservasi, Maleo Center DSLNG yang dikembangkan atas kerja sama dengan ahli dari Univbersitas Tadulako Palu itu, juga menjadi sarana edukasi lingkungan bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 2 tahun lalu

    Burung Maleo yang Hampir Punah

    PALU (KICAU): Di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) yang sebagian wilayahnya berada di Kabupaten Poso dan Sigi terdapat beberapa jenis satwa, termasuk di antaranya endemik Sulawesi seperti burun

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99