Jumat, 17 Agu 2018

Phapros Gandeng Perusahaan Farmasi Myanmar

Oleh: Elida KS
Kamis, 21 Des 2017 21:13
BAGIKAN:
istimewa.
Dirut Phapros Barokah Sri Utami dan Pendiri Medi Myanmar Win Si Thu (duduk).
YANGON (EKSPOSnews): PT Phapros Tbk. terus melebarkan sayap bisnisnya hingga ke mancanegara, Anak Perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) (RNI) yang bergerak dalam bidang industri farmasi dan alat kesehatan ini menggandeng raksasa farmasi asal Myanmar Medi Myanmar Group melalui pembentukan usaha bersama (Join Venture) pengembangan bisnis farmasi dan alat kesehatan.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Direktur Utama PT Phapros Tbk. Barokah Sri Utami dan Pendiri Medi Myanmar Group Win Si Thu, Kamis 21 Desember 2017, di Yangon, Mayanmar.

Penandatanganan MoU yang dihadiri Duta Besar RI untuk Myanmar Ito Sumardi, Direktur Keuangan PT RNI yang juga Komisari Utama PT Phapros Tbk. M. Yana Aditya, serta Komisaris PT RNI Aditya Dhanwantara ini semakin memperkuat eksistensi Phapros di panggung Asean setelah sebelumnya merambah pasar Kamboja, Filiphina, dan Vietnam.

Barokah Sri Utami yang akrab disapa Emmy mengatakan, Joint Venture yang dibentuk akan fokus pada pendirian paberik. Pada tahap awal, paberik tersebut disiapkan untuk memproduksi tablet dan kapsul non antibiotik, sebelum kemudian secara perlahan masuk ke arah pengembangan parenteral.

"Kami tengah siapkan kajiannya. Sambil menunggu paberik beroperasi akan diijajaki peluang ekspor OTC atau obat bebas yang dapat dijual tanpa resep dokter," ungkapnya.

Medi Myanmar Group merupakan salah satu perusahaan farmasi terkemuka di Myanmar yang telah berdiri sejak tahun 1991 dengan bisnis utamanya adalah importasi, marketing dan distribusi produk-produk farmasi dari berbagai perusahaan ternama. Medi Myanmar Group telah berhasil meregistrasi 530 produk baik etikal ataupun OTC yang keseluruhannya sudah sesuai dengan Myanmar FDA guideline dan ACTD.

Saat ini perusahaan yang memiliki 20 cabang yang tersebar di berbagai kota di Myanmar tersebut telah menyiapkan lahan di wilayah Yangon Industrial Estate seluas 2 Ha. "Lahan tersebut dipersiapkan sebagai lokasi paberik yang akan dikerjasamakan," ungkap Emmy.

Ia menambahkan, Phapros juga tengah melakukan penjajakan kerja sama dengan beberapa partner bisnis dan perusahaan farmasi Myanmar lainnya. "Kami coba jajaki kerja sama ekspor di Myanmar guna memperluas cakupan area distribusi Phapros yang sebelumnya sudah merambah negara-negara Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Afrika," kata Emmy.

Sementara itu, menurut Yana Aditya, melalui kerja sama ini Phapros dan Medi Myanmar Group akan menggarap industri farmasi dan alat kesehatan di Myanmar yang kini tengah menggeliat. "Bagaimana tidak, saat ini 90 persen produk farmasi yang beredar di Myanmar masih mengandalkan impor, dimana sebanyak 45 persen diantaranya didatangkan dari India, 35 persen dari Thailand, dan 10 persen dari Bangladesh dan Pakistan," ungkapnya usai menyaksikan penandatanganan MoU.

Melihat masih terbukanya pangsa pasar farmasi di Asean terutama di Myanmar, Yana menilai banyak hal strategis yang dapat dikerjasamakan keduabelah pihak,mulai dari manufaktur, transfer teknologi, pengembangan SDM di bidang farmasi, hingga ekspor-impor. Menurutnya, saat ini pangsa pasar farmasi di Asean masih terbuka lebar, berdasarkan data Kementerian Perindustrian total pasar farmasi Asean sebesar USD17,4 miliar. Sebagai perbandingan, pada tahun 2017 nilai pasar produk farmasi di Indonesia sekitar USD4,7 miliar atau setara 27 persen dari total pasar farmasi di Asean.

Kerja sama anak perusahaan BUMN dengan perusahaan Myanmar ini disambut baik oleh Duta Besar RI untuk Myanmar Ito Sumardi. Ia mengatakan, kerja sama yang dilakukan Phapros adalah langkah yang positif, mengingat sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Asean pada tahun 2016 sebesar 6,5 persen, Myanmar memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara tujuan investasi.

Menurut laporan Bank Dunia yang bertajuk East Asia and Pacific  Economic Update, ekonomi Myanmar sendiri diprediksi akan naik ke angka 6,9 persen di tahun 2017 dan 7,2 persen di tahun 2018, naik dari 6,5 persen di tahun 2016. Hal ini sejalan dengan kenaikan belanja infrastruktur dan reformasi struktural akan mampu mendatangkan banyak investasi asing.

Adapun capaian kinerja Phapros sampai dengan kwartal ketiga tahun 2017 mencatatkan laba bersih Rp72 miliar atau tumbuh 38 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba bersih tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan selama periode Januari sampai Juni sebesar 16,6 persen. Pertumbuhan penjualan tersebut terjadi di semua portofolio produk obat Phapros, baik obat jual bebas, obat generik, maupun etikal. Tahun ini, Phapros menargetkan pendapatan Rp1 triliun dan laba bersih hingga Rp100 miliar.



  Berita Terkait
  • 2 bulan lalu

    Phapros Salurkan Sembako Murah

    SEMARANG (EKSPOSnews): PT Phapros, Tbk., bekerja sama dengan Koperasi Menjangan Enak (KME) menyiapkan setidaknya 1.800 paket sembako murah pada "Bazaar Ramadhan 2018" untuk masyarakat."Seperti tahun-t

  • 3 bulan lalu

    Phapros Industri Pertama Menggunakan Green Chille dan Mampu menghemat Energi 20 Persen

    SEMARANG (EKSPOSnews): PT Phapros, Tbk. yang merupakan anak usaha dari PT Rajawali Nusantara Indonesia terus menunjukkan komitmennya dala mmelakukan efisiensi energi. Komitmen Phapros untuk melakukan

  • 5 bulan lalu

    Phapros Hemat Miliaran Rupiah

    JAKARTA (EKSPOSnews): Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang saat ini tengah digalakkan pemerintah sebagai lanjutan dari Millenium Development Goals( MDGs) membuat pa

  • 6 bulan lalu

    Phapros Berhasil Menangkan Tender E-Catalogue Senilai Rp2 Triliun

    JAKARTA (EKSPOSnews): PT Phapros, Tbk. yang merupakan salah satu anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) kembali memenangkan tender obat e-catalogue untuk 2 tahun ke depan, berdasark

  • 6 bulan lalu

    Periksa Seluruh Produksi Pharos Indonesia dan Medifarma

    JAKARTA (EKSPOSnews): Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memeriksa seluruh proses pembuatan semua merek obat yan

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99