Selasa, 07 Jul 2020

Kasus Stunting di Palangka Raya Parah

Oleh: marsot
Selasa, 26 Mar 2019 16:50
BAGIKAN:
istimewa.
Anak-anak.
PALANGKA RAYA (EKSPOSnews): Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah Suyuti Syamsul mengakui, kasus stunting yang terjadi di wilayahnya menempati peringkat keempat terburuk se-Indonesia.

"Kasus stunting menjadi salah satu fokus utama kami, meskipun sebenarnya telah mengalami penurunan dari 40 persen menjadi sekitar 34 persen dari total anak," katanya di Palangka Raya, Selasa 26 Maret 2019.

Stunting merupakan kondisi tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan normal. Penyebab utamanya, yakni kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun.

Suyuti menjelaskan, kasus stunting terbanyak terjadi di tiga kabupaten, yakni Barito Timur, Kapuas dan Kotawaringin Timur. Namun yang menjadi fokus pihaknya pada tahun ini adalah Barito Timur, baru nantinya dilanjutkan dengan kabupaten lainnya.

Bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI, tahun ini pihaknya akan memberikan bantuan berupa pemberian makanan tambahan ibu hamil dan anak usia di bawah dua tahun untuk menghindari stunting.

"Penyediaan bantuan berupa pemberian makanan tambahan itu, rencananya menggunakan dana sekitar Rp2 miliar yang berasal dari pemerintah pusat dan juga daerah," jelasnya.

Ia menjelaskan, saat ini pihaknya masih menduga-duga penyebab banyaknya kasus stunting di Bartim. Untuk itu pihaknya juga akan melaksanakan penelitian secara khusus, bekerja sama dengan perguruan tinggi kesehatan setempat.

Pelibatan pihak perguruan tinggi nantinya akan ditindaklanjuti dengan sebuah nota kesepahaman untuk menentukan daerah binaan. Pihaknya juga akan melakukan kolaborasi pembiayaan antara pemerintah pusat dan daerah untuk pelaksanaannya.

Jika suatu daerah ditemukan banyak kasus stunting, maka mahasiswa dari perguruan tinggi kesehatan akan ditugaskan ke sana untuk melakukan pendampingan di bawah koordinasi  dosennya.

"Mereka akan mendampingi seribu hari pertama usia kehidupan dan semuanya dipantau sejak awal kelahiran," papar Suyuti.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • tahun lalu

    Pengembangan Otak Anak Stunting Tak Bisa Pulih

    JAKARTA (EKSPOSnews): Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor menyebutkan perkembangan otak anak yang mengalami stunting atau kekerdilan tidak akan bisa pulih atau diperbaiki dengan asupan gizi setela

  • tahun lalu

    Balita di Kampar Terancam Stunting

    PEKANBARU (EKSPOSnews): Seratusan balita di sejumlah desa di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau diindikasi terancam dan sebagian lainnya mengalami stunting akibat pola asupan gizi yang rendah dan tempat

  • tahun lalu

    Menekan Anak Stunting di Tebing Tinggi

    TEBING TINGGI (EKSPOSnews): Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, mengungkap ada 74 anak di daerah itu mengalami stunting sehingga diupayakan untuk mendapat asupan gizi yang lebih baik.K

  • 2 tahun lalu

    Menekan Stunting di Gorontalo

    GORONTALO (EKSPOSnews): Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Gorontalo berkomitmen untuk mengintervensi "stunting" melalui berbagai program di daerah tersebut.Kepala BKK

  • 2 tahun lalu

    Anak-Anak di Jember Semakin Banyak yang Pendek

    JEMBER (EKSPOSnews): Sebanyak 30 persen bayi berusia di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Jember, Jawa Timur mengalami "stunting" berdasarkan hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan setempat

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2020 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99