Kamis, 26 Apr 2018

Kisah Pernikahan TKI di Malaysia

Oleh: marsot.
Jumat, 13 Okt 2017 05:11
BAGIKAN:
istimewa.
Pernikahan.
KOTA KINIBALU (EKSPOSnews): Suka duka dialami oleh para tenaga kerja Indonesia (TKI) saat melakukan pernikanan di Malaysia, pasalnya kebanyak terpaksa kawin siri atau sah secara agama tapi ilegal karena tidak tercatat dalam buku nikah Indonesia.

Suka duka tentang susahnya pernikahan di negeri jiran dituturkan oleh pasangan suami-istri Syarifuddin bin Lambo (47) dan Mardawiah (40), TKI asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan di Nunukan, Kamis 12 Oktober 2017.

Selama ini, para TKI yang melakukan ikatan perkawinan terpaksa melakukan pernikahan siri atau di bawah tangan atas jasa imam kampung di negeri jiran.

Jadi secara hukum agama sah namun ilegal dari aspek hukum negara.

Hal tersebut dilakoninya untuk melegalkan hubungan suami istri hingga puluhan tahun seperti yang dialami Syarifuddin dengan Mardawiah (40).

Keduanya bercerita bahwa mendapat khabar gembira awal pekan ini karena dilaksanakan sidang itsbat (pengesahan) nikah di KJRI Kota Kinabalu.

"Bagaimana tidak gembira karena sudah lama tidak memiliki surat sah nikah dan awal pekan ini dipanggil untuk mendapat buku nikah," kata Syarifuddin.

Mereka akhirnya datang untuk menunggu giliran dinikahkan oleh penghulu dari Pengadilan Agama Jakarta Pusat yang "disewa" Konsulat Jenderal RI di Kota Kinabalu Negeri Sabah.

Hatinya kini lega karena sudah resmi menyandang "gelar" suami istri yang diakui negara setelah menjalani pernikahan ulang di KJRI Kota Kinabalu itu.

Pria asal Suku Bugis ini menceritakan, perjalanan hidupnya di tanah rantau Malaysia yang menikah sejak 1989 dimana telah dikaruniai empat anak.

Namun, anaknya tidak bisa mendapatkan hak-hak perlindungan dari negara akibat tidak memiliki akta lahir akibat kedua orangtuanya tak punya buku nikah.

"Saya sangat senang karena sudah punya surat nikah dari Konsulat Jenderal RI Kota Kinabalu atas perhatian pemerintah Indonesia," ujar Syarifuddin yang didampingi istrinya sambil mengendong anak keempatnya yang baru berusia tiga tahun itu.

Saat mengetahui dirinya mendapatkan panggilan untuk sidang isbath guna mengsahkan perkawinannya, suami istri beserta anak bungsunya terpaksa berjalan kaki selama lima jam dari tempat kerjanya di perkebunan kepala sawit Estate Sapi menuju Kantor KJRI di Kota Kinabalu.

Perjalanannya yang sangat melelahkan memulai pukul 22.00 waktu setempat dan tiba di Kantor KJRI pada subuh hari. Walau lelah tapi tak menyurutkan semangatnya demi mendapatkan buku nikah tersebut.

Suami istri ini taj henti-hentinya bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada KJRI Kota Kinabalu setelah resmi memegang buku nikah.

"Terima kasih kepada pemerintah Indonesia karena memperhatikan kami dirantau dengan mengsahkan pernikahan yang telah puluhan tahun berada di bawah pernikahan siri semata," kisah Syarifuddin sambil tersenyum sumringah.

Malaysia Sambut Baik Konsul Jenderal RI Kota Kinabalu Akhmad DH Irfan memandang bahwa langkah pemerintah Indonesia menikahkan kembali warganya di perantauan negara lain sangat tepat.

Hal ini sebagai bentuk perhatian dan perlindungan terhadap WNI yang menikah dalam satu negara yang berada di negeri orang maupun WNI yang menikah dengan warga negara lain.

KJRI Kota Kinabalu sendiri, kata dia, telah enam kali melaksanakan sidang isbath, yakni pertama kali pada 2011 dengan 360 pasangan suami istri (pasutri), 2012 dengan 120 pasutri, 2016 sebanyak dua kali masing-masing pada Oktober sebanyak 190 pasangan dan 210 pasangan pada Desember 2017.

Kemudian, 2017 juga dua kali dilaksanakan yakni 231 pasutri pada Mei dan keenam pada Oktober ini sebanyak 301 pasutri.

Sedangkan pencatatan pernikahan bagi WNI non muslim juga pernah dilaksanakan sebanyak dua kali yaitu 2014 sebanyak 118 pasangan dan 2015 sebanyak 108 pasang.

KJRI Kota Kinabalu menyatakan, pada saat dibuka pendaftaran WNI di rantau tumpah ruah mendaftarkan diri tetapi terpaksa dibatasi dengan menerapkan sistem kuota setiap perusahaan di negara itu.

Program ini pun mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah Malaysia melalui Cik Muhammad Sahirin bin Hassan, Ketua Bahagian Perkawinan dan Perceraian, Jabatan Pencatatan Negara (JPN) Negeri Sabah.

Cik Muhammad Sahirin bin Hassan menyatakan bahwa menyambut baik program itsbat nikah yang diselenggarakan KJRI bagi WNI.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • satu bulan lalu

    Mengamankan Mobil Selundupan dari Malaysia

    NUNUKAN (EKSPOSnews): Prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Batalion Infantri 621/Manuntung mengamankan sebuah mobil yang diselundupkan dari Malaysia di Pulau Sebatik Kabupaten N

  • 2 bulan lalu

    Narkotika Masuk Lewat Perairan Malaysia

    MEDAN (EKSPOSnews): Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan narkotika jenis sabu dan pil ekstasi yang diedarkan di Indonesia masuk melalui jalur laut Malaysia-Pekanbaru-Medan-Aceh

  • 2 bulan lalu

    Pemerintah Akan Perjuangan Hak TKI yang Meninggal Dunia di Malaysia

    JAKARTA (EKSPOSnews): Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri menyatakan pemerintah akan memperjuangkan hak tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, Adelina Lisao yang meninggal

  • 3 bulan lalu

    Kapal Nelayan Malaysia Ditangkap di Perairan Aceh

    BANDA ACEH (EKSPOSnews): Kementerian Kelautan Perikanan melalui Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Lampulo, Banda Aceh, menangkap kapal nelayan berbendera Malaysia.Kepala

  • 3 bulan lalu

    Nelayan Langkat Ditangkap Polisi Malaysia

    STABAT (EKSPOSnews): Enam nelayan tradisional asal Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, ditangkap polisi maritim Malaysia dan ditahan di penjara Pulau Penang untuk menunggu proses hukum.Sementara keluar

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99