Kamis, 16 Agu 2018

Kisah Pernikahan TKI di Malaysia

Oleh: marsot.
Jumat, 13 Okt 2017 05:11
BAGIKAN:
istimewa.
Pernikahan.
KOTA KINIBALU (EKSPOSnews): Suka duka dialami oleh para tenaga kerja Indonesia (TKI) saat melakukan pernikanan di Malaysia, pasalnya kebanyak terpaksa kawin siri atau sah secara agama tapi ilegal karena tidak tercatat dalam buku nikah Indonesia.

Suka duka tentang susahnya pernikahan di negeri jiran dituturkan oleh pasangan suami-istri Syarifuddin bin Lambo (47) dan Mardawiah (40), TKI asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan di Nunukan, Kamis 12 Oktober 2017.

Selama ini, para TKI yang melakukan ikatan perkawinan terpaksa melakukan pernikahan siri atau di bawah tangan atas jasa imam kampung di negeri jiran.

Jadi secara hukum agama sah namun ilegal dari aspek hukum negara.

Hal tersebut dilakoninya untuk melegalkan hubungan suami istri hingga puluhan tahun seperti yang dialami Syarifuddin dengan Mardawiah (40).

Keduanya bercerita bahwa mendapat khabar gembira awal pekan ini karena dilaksanakan sidang itsbat (pengesahan) nikah di KJRI Kota Kinabalu.

"Bagaimana tidak gembira karena sudah lama tidak memiliki surat sah nikah dan awal pekan ini dipanggil untuk mendapat buku nikah," kata Syarifuddin.

Mereka akhirnya datang untuk menunggu giliran dinikahkan oleh penghulu dari Pengadilan Agama Jakarta Pusat yang "disewa" Konsulat Jenderal RI di Kota Kinabalu Negeri Sabah.

Hatinya kini lega karena sudah resmi menyandang "gelar" suami istri yang diakui negara setelah menjalani pernikahan ulang di KJRI Kota Kinabalu itu.

Pria asal Suku Bugis ini menceritakan, perjalanan hidupnya di tanah rantau Malaysia yang menikah sejak 1989 dimana telah dikaruniai empat anak.

Namun, anaknya tidak bisa mendapatkan hak-hak perlindungan dari negara akibat tidak memiliki akta lahir akibat kedua orangtuanya tak punya buku nikah.

"Saya sangat senang karena sudah punya surat nikah dari Konsulat Jenderal RI Kota Kinabalu atas perhatian pemerintah Indonesia," ujar Syarifuddin yang didampingi istrinya sambil mengendong anak keempatnya yang baru berusia tiga tahun itu.

Saat mengetahui dirinya mendapatkan panggilan untuk sidang isbath guna mengsahkan perkawinannya, suami istri beserta anak bungsunya terpaksa berjalan kaki selama lima jam dari tempat kerjanya di perkebunan kepala sawit Estate Sapi menuju Kantor KJRI di Kota Kinabalu.

Perjalanannya yang sangat melelahkan memulai pukul 22.00 waktu setempat dan tiba di Kantor KJRI pada subuh hari. Walau lelah tapi tak menyurutkan semangatnya demi mendapatkan buku nikah tersebut.

Suami istri ini taj henti-hentinya bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada KJRI Kota Kinabalu setelah resmi memegang buku nikah.

"Terima kasih kepada pemerintah Indonesia karena memperhatikan kami dirantau dengan mengsahkan pernikahan yang telah puluhan tahun berada di bawah pernikahan siri semata," kisah Syarifuddin sambil tersenyum sumringah.

Malaysia Sambut Baik Konsul Jenderal RI Kota Kinabalu Akhmad DH Irfan memandang bahwa langkah pemerintah Indonesia menikahkan kembali warganya di perantauan negara lain sangat tepat.

Hal ini sebagai bentuk perhatian dan perlindungan terhadap WNI yang menikah dalam satu negara yang berada di negeri orang maupun WNI yang menikah dengan warga negara lain.

KJRI Kota Kinabalu sendiri, kata dia, telah enam kali melaksanakan sidang isbath, yakni pertama kali pada 2011 dengan 360 pasangan suami istri (pasutri), 2012 dengan 120 pasutri, 2016 sebanyak dua kali masing-masing pada Oktober sebanyak 190 pasangan dan 210 pasangan pada Desember 2017.

Kemudian, 2017 juga dua kali dilaksanakan yakni 231 pasutri pada Mei dan keenam pada Oktober ini sebanyak 301 pasutri.

Sedangkan pencatatan pernikahan bagi WNI non muslim juga pernah dilaksanakan sebanyak dua kali yaitu 2014 sebanyak 118 pasangan dan 2015 sebanyak 108 pasang.

KJRI Kota Kinabalu menyatakan, pada saat dibuka pendaftaran WNI di rantau tumpah ruah mendaftarkan diri tetapi terpaksa dibatasi dengan menerapkan sistem kuota setiap perusahaan di negara itu.

Program ini pun mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah Malaysia melalui Cik Muhammad Sahirin bin Hassan, Ketua Bahagian Perkawinan dan Perceraian, Jabatan Pencatatan Negara (JPN) Negeri Sabah.

Cik Muhammad Sahirin bin Hassan menyatakan bahwa menyambut baik program itsbat nikah yang diselenggarakan KJRI bagi WNI.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 2 minggu lalu

    TKW Asal Aceh Meninggal Dunia di Malaysia

    BANDA ACEH (EKSPOSnews): Seorang tenaga kerja wanita Indonesia asal Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, meninggal dunia dalam kecelakaan kapal tenggelam di Malaysia.Kepala Balai Pelayanan Penempata

  • 2 minggu lalu

    Kurir Narkoba Malaysia Terancam Hukuman Mati

    PEKANBARU (EKSPOSnews): Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Riau menyatakan kurir narkoba yang telah ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan 10 kilogram sabu-sabu yang jaringan Malaysia te

  • 2 minggu lalu

    WNI Asal Aceh Divonis Mati di Malaysia karena Narkoba

    KUALA LUMPUR (EKSPOSnews): Warga Negara Indonesia (WNI) asal Aceh Iqbal (30) divonis mati oleh Pengadilan Tinggi Shah Alam, Selangor, Selasa 31 Juli 2018 karena ditemukan narkoba dalam dua batang besi

  • 3 minggu lalu

    Imigrasi Malaysia Tahan Pekerja Ilegal

    KUALA LUMPUR (EKSPOSnews):Imigrasi Malaysia menahan 139 pekerja ilegal atau pendatang asing tanpa izin (PATI) dalam Operasi Mega 3.0 di beberapa kawasan sekitar Jalan Raja Laut, Kuala Lumpur, Selasa 2

  • 3 minggu lalu

    Indonesia-Malaysia Sepakat Lawan Kampanye Negatif Sawit

    JAKARTA (EKSPOSnews): Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk meningkatkan kerja sama melawan kampanye negatif terhadap produk minyak sawit yang terjadi di wilayah Uni Eropa.Kesepakatan itu di

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99