Kamis, 16 Agu 2018
  • Home
  • Humaniora
  • Kekerasan Terhadap Anak Perempuan di Solok Melonjak

Kekerasan Terhadap Anak Perempuan di Solok Melonjak

Oleh: marsot
Rabu, 22 Nov 2017 10:24
BAGIKAN:
istimewa.
Korban kekerasan.
SOLOK (EKSPOSnews): Pemkot Solok, Sumatera Barat berhasil mengungkap 21 kasus kekerasan anak dan perempuan yang terjadi di daerah itu sejak Januari hingga November 2017.

"Dari 21 kasus tersebut didominasi kekerasan terhadap anak yakni penganiayaan anak sebanyak enam kasus," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Delfianto didampingi Kepala Bidang Perlindungan, Eli Harni di Solok, Rabu 22 November 2017.

Ia merinci 21 kasus kekerasan anak dan perempuan itu yakni enam kasus penganiayaan anak, empat kasus pelecehan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) tiga kasus, tiga kasus melarikan anak di bawah umur, LGBT satu kasus, pengancaman pembunuhan satu kasus, narkoba satu kasus, pencurian satu kasus, dan penelantaran anak satu kasus.

"Anak yang terkena kasus kekerasan lebih dominan siswa SD," ujarnya.

Kejadian itu pada Januari terjadi empat kasus, Februari (3), Maret (3), April (3), Mei (1), Juli (1), Agustus(1), September (1) , Oktober (1), dan November (2).

Terhadap kasus anak di bawah umur yang terkena pelecehan seksual pihaknya telah memberi pendampingan dalam menjalani pengobatan, dan konsultasi ke psikiater. Bahkan korban dari keluarga tidak mampu dibiayai untuk visumnya.

"Dalam banyak kasus kita mendahulukan mediasi agar didapat penyelesaian yang baik," ujarnya.

Untuk mengurangi kasus KDRT di daerah itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi di tingkat kelurahan. Pihak kelurahan selanjutnya memberikan informasi penghapusan KDRT ke masyarakat.

Kendala dalam pengungkapan kasus kekerasan pada perempuan dan anak seringkali karena adanya ketakutan melapor dari pihak keluarga, sehingga kasus terlambat diketahui dan ditangani.

Karena itu kita mengharapkan masyarakat terbuka jika ada anggota keluarga yang mengalami kasus kekerasan anak dan perempuan ini.

"Kita akan memberi bantuan bahkan menolong korban menceritakan kepada psikiater jika mengalami trauma," lanjutnya.

Jika masyarakat terbuka dan cepat melapor akan lebih mempercepat penyelesaian masalahnya. Makanya jangan menyimpan karena malu, sebab akan merugikan bagi keluarga dan korban sendiri.


Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 2 minggu lalu

    Cara Kekerasan Mulai Ditinggalkan Kelompok Ekstrimis

    YOGYAKARTA (EKSPOSnews): Peneliti dari Goucher College, Amerika Serikat Julie Chernov Hwang mengemukakan berdasarkan hasil riset yang dilakukan banyak para ekstremis di Indonesia memilih meninggalkan

  • 3 minggu lalu

    Pernikahan Dini Sebabkan Kekerasan dalam Rumah Tangga

    PALU (EKSPOSnews): Aktivis perempuan di Sulawesi Tengah menilai pernikahan dini atau pernikahan dibawah umur menjadi salah satu fakor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)."Pernikaha

  • 3 bulan lalu

    Kekerasan Dalam Rumah Tangga Penyebab Utama Perceraian di Pamekasan

    PAMEKASAN (EKSPOSnews): Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur Hery Kushendar menyatakan, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan penyebab utama terjadin

  • 4 bulan lalu

    Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat

    JAKARTA (EKSPOSnews): Wakil Ketua Komisi Kejaksaan Republik Indonesia, Erna Ratnaningsih mengungkapkan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan Tahun 2018

  • 5 bulan lalu

    Kekerasan Seksual Lebih Banyak Dilakukan Guru Olah Raga?

    JAKARTA (EKSPOSnews): Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan kebanyakan kasus kekerasan seksual oleh oknum guru, dilakukan oleh guru mata pel

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99