Minggu, 28 Mei 2017

Janda di Indragiri Hulu Semakin Banyak

Oleh: Marsot
Kamis, 23 Mar 2017 00:35
BAGIKAN:
istimewa
Cerai (ilustrasi).
RENGAT (EKSPOSnews): Pasangan Suami Istri di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau yang melakukan gugat cerai pada Januari - Maret tahun 2017 baru mencapai 267 kasus, sedangkan selama tahun 2016 mencapai 966.

"Ini terjadi penurunan dari tahun 2015 yang mencapai 1.000 kasus," kata Kepala Pengadilan Agama Indragiri Hulu M Iqbal  melalui Humas Muhamad Taufiq di Rengat, Rabu 22 Maret 2017.

Ia mengatakan, jumlah kasus perceraian di Inhu cenderung menurun pada tahun 2016, diharapkan tahun 2017 juga terjadi penurunan yang signifikan, hubungan baik suami itri terbina dengan optimal dan masa depan anak terjamin.

Perceraian itu terjadi disebabkan banyak faktor baik itu karena selisih paham, tidak ada kecocokan maupun adanya kekerasan dalam rumah tangga, namun sebelum terjadi putus hubungan atau ikatan perkawinan tentu semua pihak berharap optimalisasi perundingan dan itulah kerja pelaku mediasi.

"Perceraian itu langkah terakhir," sebutnya.

Ia juga menyebutkan, PNS, TNI-Polri, maupun warga sipil yang mengajukan gugatan cerai harus memenuhi persyaratan, namun sebelum dilanjutkan ke persidangan tentunya ada mediasi.

"Karena akibat cerai berdampak kepada banyak pihak, terutama nasib anak - anak," sebutnya.

Total 966 kasus perceraian tahun 2016, sekitar 15 pasutri tidak jadi cerai sebab adanya mediasi saat sidang berlangsung, berhasil rujuk dan selama menjalani sidangnya, diketahui bahwasanya penyebab tidak terjadinya perceraian dikarenakan adanya perdamaian diantara kedua pasangan suami istri dan masih ada menjalin perasaan yang sama untuk tetap terikat perkawinan yang sah.

"Sedangkan adapun faktor utama penyebab terjadinya perceraian terhadap pasangan suami istri ini dikarenakan himpitan ekonomi, perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)," ujarnya.

Salah satu masyarakat Indragiri Hulu Yandi menyebutkan, proses perceraian itu terjadi jika sudah tidak bisa lagi diperbaiki dan saling memaafkan antara suami - istri, namun upaya rujuk lebih baik di optimalkan oleh pihak mediasi.

"Kami khawatir semakin tinggi tingkat perceraian berdampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat," jelasnya.

Karena, jika suami - istri sudah memiliki anak tentu berdampak kepada kelangsungan hidup dan masa depan anak tersebut hingga tidak jarang nasib mereka lebih buruk dan pendidikan didapat rendak akibat tidak mendapat perhatian orang tua.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 2 minggu lalu

    Bidan Banyak, Kok Kematian Ibu Melahirkan Meningkat?

    PALEMBANG (EKSPOSnews): Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan fenomena saat ini semakin banyak lulusan profesi bidan justru a

  • 3 bulan lalu

    Biaya Kesehatan Meningkat Terus

    PONTIANAK (EKSPOSnews): Managing Director Agency Value Creation and Innovation Prudential Indonesia, Luskito Hambali mengatakan berdasarkan hasil survei Tower Watson Global Medical Trend Survey Report

  • 4 bulan lalu

    Angka Perceraian di Sulteng Melonjak

    PALU (EKSPOSnews): Selama 2016, angka perceraian di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mencapai angka 2.699 kasus yang tercatat dari sembilan pengadilan agama (PA) di 13 kabupaten dan kota. &q

  • 5 bulan lalu

    Kasus Terorisme pada 2016 Meningkat

    JAKARTA (EKSPOSnews): Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian menyatakan sepanjang 2016 Polri menangani 170 kasus terorisme atau meningkat dibanding tahun sebe

  • 5 bulan lalu

    Pengguna Internet di Indonesia Semakin Banyak

    YOGYAKARTA (EKSPOSnews): Sebanyak 88,1 juta orang Indonesia tercatat sebagai pengguna internet secara aktif, sehingga menjadi pasar potensial bagi ekonomi digital dunia. "Indonesia saat i

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2017 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak