Sabtu, 23 Jun 2018

Janda di Indragiri Hulu Semakin Banyak

Oleh: Marsot
Kamis, 23 Mar 2017 00:35
BAGIKAN:
istimewa
Cerai (ilustrasi).
RENGAT (EKSPOSnews): Pasangan Suami Istri di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau yang melakukan gugat cerai pada Januari - Maret tahun 2017 baru mencapai 267 kasus, sedangkan selama tahun 2016 mencapai 966.

"Ini terjadi penurunan dari tahun 2015 yang mencapai 1.000 kasus," kata Kepala Pengadilan Agama Indragiri Hulu M Iqbal  melalui Humas Muhamad Taufiq di Rengat, Rabu 22 Maret 2017.

Ia mengatakan, jumlah kasus perceraian di Inhu cenderung menurun pada tahun 2016, diharapkan tahun 2017 juga terjadi penurunan yang signifikan, hubungan baik suami itri terbina dengan optimal dan masa depan anak terjamin.

Perceraian itu terjadi disebabkan banyak faktor baik itu karena selisih paham, tidak ada kecocokan maupun adanya kekerasan dalam rumah tangga, namun sebelum terjadi putus hubungan atau ikatan perkawinan tentu semua pihak berharap optimalisasi perundingan dan itulah kerja pelaku mediasi.

"Perceraian itu langkah terakhir," sebutnya.

Ia juga menyebutkan, PNS, TNI-Polri, maupun warga sipil yang mengajukan gugatan cerai harus memenuhi persyaratan, namun sebelum dilanjutkan ke persidangan tentunya ada mediasi.

"Karena akibat cerai berdampak kepada banyak pihak, terutama nasib anak - anak," sebutnya.

Total 966 kasus perceraian tahun 2016, sekitar 15 pasutri tidak jadi cerai sebab adanya mediasi saat sidang berlangsung, berhasil rujuk dan selama menjalani sidangnya, diketahui bahwasanya penyebab tidak terjadinya perceraian dikarenakan adanya perdamaian diantara kedua pasangan suami istri dan masih ada menjalin perasaan yang sama untuk tetap terikat perkawinan yang sah.

"Sedangkan adapun faktor utama penyebab terjadinya perceraian terhadap pasangan suami istri ini dikarenakan himpitan ekonomi, perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)," ujarnya.

Salah satu masyarakat Indragiri Hulu Yandi menyebutkan, proses perceraian itu terjadi jika sudah tidak bisa lagi diperbaiki dan saling memaafkan antara suami - istri, namun upaya rujuk lebih baik di optimalkan oleh pihak mediasi.

"Kami khawatir semakin tinggi tingkat perceraian berdampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat," jelasnya.

Karena, jika suami - istri sudah memiliki anak tentu berdampak kepada kelangsungan hidup dan masa depan anak tersebut hingga tidak jarang nasib mereka lebih buruk dan pendidikan didapat rendak akibat tidak mendapat perhatian orang tua.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 2 bulan lalu

    Penjualan Mobil Meningkat

    JAKARTA (EKSPOSnews): Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan mobil nasional pada kuartal I-2018 meningkat 2,9 persen dibanding periode yang sama pada 2017.Dalam d

  • 5 bulan lalu

    Biaya Pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung Membengkak

    MEDAN (EKSPOSnews): PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) memperkirakan pembiayaan proyek Pelabuhan Kuala Tanjung tahap pertama di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, akan membengkak menjadi Rp4 triliun

  • 6 bulan lalu

    Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat

    REJANG LEBONG (EKSPOSnews): Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu selama 2017 lalu mencapai 184 kasus, jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan 20

  • 6 bulan lalu

    Wisman ke Sumsel Meningkat

    PALEMBANG (EKSPOSnews): Jumlah wisman yang datang ke Sumatera Selatan pada November 2017 mengalami peningkatan sebesar 41,44 persen dibandingkan Oktober 2017.Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumater

  • 7 bulan lalu

    Penerbangan ke Bengkulu Meningkat

    BENGKULU (EKSPOSnews): Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu menyebutkan jumlah penerbangan komersial dari dan ke Bandara Fatmawati Bengkulu pada Oktober 2017 mengalami peningkatan sebesar 8,48 pers

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99