Rabu, 20 Feb 2019

PSI Nilai Fahri Hamzah Terlalu Menyederhanan Kasus Ratna Sarumpaet

Oleh: Jallus
Jumat, 12 Okt 2018 04:25
BAGIKAN:
istimewa.
Fahri Hamzah.
JAKARTA (EKSPOSnews): DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengingatkan kepada semua pihak yang dilaporkan ke kepolisian terkait kasus hoaks Ratna Sarumpaet untuk tidak melulu memainkan kasus hukum ini di ranah opini politik.

"Melontarkan pembenaran-pembenaran, melemparkan tuduhan-tuduhan pengalihan isu, dan lain-lain," kata Juru bicara PSI, Dedek Prayudi dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis 11 Oktober 2018.

Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah sebelumnya meminta pihak kepolisian untuk segera menghentikan kasus kebohongan Ratna Sarumpaet karena dianggapnya masuk ranah pribadi.

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf ini menilai Fahri Hamzah tidak memahami demokrasi karena mengindahkan kasus hoaks Ratna Sarumpaet.

Ia menjelaskan bahwa dalam demokrasi yang maju, substansi dan metode penyampaian pendapat dan berita memiliki pengaruh sangat sentral dalam tumbuhkembangnya peradaban.

Cara berdemokrasi, lanjut dia, menentukan kemana arah peradaban bangsa, apakah kemajuan atau kehancuran.

Terkait dengan berita bohong yang disertai tuduhan, baik itu secara eksplisit maupun implisit, mengarahkan peradaban demokrasi Indonesia menjadi demokrasi yang penuh kebohongan dan merupakan akar dari pecah belah. Hal serupa pernah dilakukan oleh penjajah Belanda hingga ISIS.

"Pak Fahri mungkin tidak memahami ini, sehingga beberapa kali mengeluarkan statemen yang terkesan mengentengkan bahaya berita bohong dan tuduhan bohong. Beliau di beberapa kesempatan menganggap bahwa kasus ini sebaiknya berhenti sampai permohonan maaf," kata Dedek.

Fahri memandang, kasus kebohongan Ratna Sarumpaet merupakan kasus pribadinya, sehingga tak perlu dikembangkan dengan menyeret orang lain. Fahri juga menyarankan tak perlu lagi aparat kepolisian menanggapi laporan-laporan yang masuk terkait kasus tersebut.

Namun Dedek berpandangan, bahwa Fahri Hamzah merasa paling benar soal kasus Ratna Sarumpaet. Ia berpendapat, kasus tersebut harus dituntaskan dan tak berhenti dengan permintaan maaf.

"Kalau memang sudah pernah mengaku salah, maka bersikaplah seperti orang yang salah. Kami menangkap kesan bahwa pak Fahri justru merasa paling benar, karena sudah pernah mengaku salah," ujar Dedek.

Permintaan maaf memang harus dimaafkan, sebagai makhluk Tuhan, tetapi proses hukum harus tetap berjalan, sebagai bentuk implementasi kenegaraan. Namun, kasus ini harus dikupas habis demi peradaban demokrasi bangsa, katanya. 

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 7 hari lalu

    Belanja Barang Pemerintah Masih Jadi Lahan Korupsi

    JAKARTA (EKSPOSnews): Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui kebocoran APBN Tahun 2018 memang terjadi, namun angkanya berkisar sekitar 2,5 persen dari total anggaran senilai Rp2.200 triliun."Bukan 25 per

  • 2 minggu lalu

    Dana Desa Rawan Dikorupsi

    JAKARTA (EKSPOSnews): Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai berdasarkan kajian Tren Penindakan Kasus Korupsi 2018, dana desa rawan dikorupsi."Sektor yang paling rawan dikorupsi, yakni anggaran desa

  • 3 minggu lalu

    KPK Limpahkan ke Pengadilan Kasus Korupsi Pakpak Bharat

    JAKARTA (EKSPOSnews): Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melimpahkan proses penyidikan ke tahap penuntutan terhadap Rijal Efendi Padang (REP), tersangka suap terkait proyek-proyek di Dinas PUPR Kabupa

  • 3 minggu lalu

    Pemberhentian PNS yang Korupsi Lambat

    JAKARTA (EKSPOSnews): KPK menilai bahwa pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang terbukti korupsi masih lambat karena baru 393 PNS yang diberhentikan tidak dengan hormat dari daftar 2.357 orang t

  • 4 minggu lalu

    OTT KPK Tak Membuat Kepala Daerah Jera Melakukan Korupsi

    JAKARTA (EKSPOSnews): Bupati Mesuji Khamami menjadi kepala daerah ke-107 yang ditetapkan sebagai tersangka KPK sejak KPK berdiri pada 2003."KPK sangat menyesalkan peristiwa dugaan suap terhadap kepala

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99