Minggu, 22 Okt 2017
  • Home
  • Hiburan
  • Kelompok Orkestra Asal Spanyol di Caldera Toba

Kelompok Orkestra Asal Spanyol di Caldera Toba

Oleh: Marsot
Minggu, 30 Jul 2017 04:55
BAGIKAN:
istimewa
Hiburan (ilustrasi).
Sekitar pukul 10.00 WIB, Jumat 28 Juli 2017 sudah banyak orang berkumpul di Monumen Pahlawan Revolusi D.I Pandjaitan, Balige, Sumatera Utara, menanti penampilan OCAS, kelompok orkestra asal Spanyol yang telah digembar-gemborkan oleh Pemerintah Kabupaten Toba Samosir.

Sambil mengintip para pemusik Orquesta de Cmara de Siero (OCAS) yang tengah menyetem alat musik, masyarakat terlihat merekam kegiatan itu dengan gawainya.

"Ayo cepat mainkan musik Spanyol, kami sudah bosan dengar musik Batak," teriak salah satu bapak yang sepertinya tak sabar mendengarkan permainan orkestra tersebut.

OCAS berkunjung ke Danau Toba mulai tanggal 27 Juli hingga 2 Agustus 2017. Selain ke Danau Toba, mereka juga akan mengunjungi Jakarta dan Pulau Seribu.

Salah satu acara puncak mereka saat mengunjungi Danau Toba adalah bermain di Taman Bumi Kaldera Toba (Caldera Toba Geopark).

Untuk menyelaraskan alat dari berbagai keluarga musik yang dipegang oleh 38 orang memang memakan waktu, apalagi sebenarnya mereka berencana untuk melakukan "flash mob" atau unjuk diri bersama sesaat di pasar Onan Balige yang letaknya di sebelah monumen tersebut.

Namun karena sudah banyak orang berkumpul, akhirnya mereka pun melakukan penampilan di monumen tersebut.

Setelah melakukan rapat kecil para pemain pun berpencar, pemegang brass berada di belakang tugu D.I Pandjaitan, pemegang bass, cello dan biola berada di sisi kiri, perkusi dan gitar berada di sisi kanan, sisanya berada di luar pagar, sementara konduktur atau dirigen bersiap di tengah.

Aba-aba konduktur mengisyaratkan lagu dimuali, pemain bass sambil memainkan alat musiknya perlahan jalan ke tengah kemudian diikuti oleh teman-temannya, mereka memainkan lagu Besame Mucho.

Seketika suara hening, penonton memperhatikan permainan musik yang mungkin belum pernah mereka lihat sebelumnya itu dengan seksama, alunan lagu menggema ke sekitar pasar meski tanpa pengeras suara.

Lantunan itu pun mengundang perhatian orang yang sedang beraktivitas di pasar untuk datang bergabung menyaksikan orkestra.

Beberapa menit kemudian lagupun selesai, para pemain kembali ke bawah pohon, tempat mereka mengadakan rapat kecil sebelumnya.

Mereka jeda cukup lama, meski demikian penonton tak beranjak dari tempatnya, menanti penampilan selanjutnya.

Pemusik kembali ke posisi mereka masing-masing, konduktor siap memberikan aba-aba untuk lagu selanjutnya, kali ini gitaris lah yang pertama memainkan musiknya sambil berjalan ke tengah penonton dan diikuti dengan pemusik lainnya, sama seperti lagu pertama.

Namun ada yang berbeda kali ini, setelah semua pemain OCAS berkumpul, masuklah kelompok musik Mataniari yang membawa alat musik tradisional Batak seperti hasapi dan sulim, bersama mereka menyanyikan lagu Sinanggar Tullo dengan ketukan cepat, ringan dan irama yang ceria.

Senyum pun tersimpul dibibir para penonton, sebagian ada yang bernyanyi-nyanyi kecil, ada juga yang mulai "manortor" (menari).

Suasana menjadi pecah, ketika para pemain musik mulai ikut menari Tortor Batak Toba, jari tangan mereka membuka menutup, tubuh mereka bergoyang ke atas dan ke bawah, penonton pun terpacu ke depan mendekati pemusik untuk menari bersama.

Ketika musik selesai, mereka bertepuk tangan berteriak "Horas".

Tak Lagi Jadi Kejutan Penampilan OCAS pagi itu seharusnya menjadi kejutan bagi masyarakat di pasar, karena "flash mob" menjadi konsep pertunjukan itu, di mana mereka menyebar dan berbaur dengan lingkungan sekitar pasar tanpa orang mengetahuinya, dan kemudian mereka tiba-tiba memainkan musik.

Namun konsep itu gagal karena acara itu sudah diumumkan oleh pemerintah daerah.

Pagi-pagi sekali sebelum mereka tampil, para petugas dinas perhubungan dan polisi telah mensterilkan ruas jalan yang akan dilalui pemain.

Orang-orang di pasar sudah membicarakan kedatangan mereka, "mau ada orkestra" kata ibu-ibu di pasar.

Saat pemain OCAS sampai sampai di pasar, orang-orang sudah merekam mereka, para pejabat daerah lengkap dengan seragam dinas pun hadir ke acara tersebut.

Penanggung jawab acara, yang juga menjabat sebagai Kasubdit Diplomasi Budaya Luar Negeri Kemendikbud Ahmad Mahendra mengatakan pihaknya sudah menjelaskan kepada pemerintah daerah mengenai konsep "flash mob".

"Dari jauh hari kami sudah mejelaskan bahwa tidak apa-apa ada pengamanan, asal tetap terkesan natural, jangan dikondisikan. Namun sepertinya mereka tidak mengerti konsep tersebut, jadi yah kita mau gimana lagi," kata dia.

OCAS sudah berkali-kali melakukan "flash mob" di antaranya di bandara di Athena, Yunani yang videonya menjadi viral di media sosial.

Meski demikian, para pemusik OCAS terlihat senang dapat menghibur masyarakat, bahkan setelah selesai tampil mereka sempat berkeliling pasar untuk sekadar melihat-lihat atau berbelanja.

Misi Sosial Orkestra asal Spanyol OCAS (Orquesta de Cmara de Siero) datang ke Indonesia bukanlah tanpa sebab, melalui proyek Vinculos mereka melakukan pertunjukan sosial.

Kedatangan grup Orkestra asal Siero ini didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memperkenalkan orkestra kepada anak-anak dan masyarakat yang selama ini belum dapat mengakses musik tersebut.

Di Danau Toba, mereka saat itu akan mengunjungi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah Hephata yang ada di wilayah Kecamatan Luguboti Tobasa.

Kemudian lokakarya musik bersama anak-anak usia belajar (SD dan SMP) akan diselenggarakan di Desa Bakara, Kabupaten Humbahas, dan Rumah Belajar di Desa Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir. Kunjungan ke Desa Lumban Suhi-suhi Samosir menjadi agenda Vinculos untuk berinteraksi secara langsung dengan para penenun ulos Batak dan masyarakat di sekitarnya, mereka juga akan memeberikan bantuan berupa alat musik kepada rumah belajar.

Selama di Danau Toba mereka akan berkolaborasi dengan musisi lokal dan kelompok musik uning-uningan Batak Toba, Mataniari yang dibentuk oleh Rithaony Hutajulu dan Irwansyah Harahap.

Dalam kolaborasi yang akan ditampilkan ini beberapa komposisi tradisi musik gondang Batak dan nyanyian Opera Batak akan dielaborasi dalam format orkestra.

Kelompok Mataniari yang beranggotakan para musisi tradisi Batak Toba, di antaranya sang Raja Sulim Marsius Sitohang, maestro musik Batak Toba penerima anugerah kebudayaan dari Kemendikbud tahun 2013.

Kelompok seni lainnya yang terlibat adalah kelompok tari Dolok Sipiak dan grup Musik Gitanos dari kota Parapat serta kelompok seni rupa instalasi dari Unimed Medan, khususnya dalam kegiatan kolaborasi seni di ruang terbuka Sigulati Samosir.


Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  komentar Pembaca

Copyright © 2009 - 2017 eksposnews.com. All Rights Reserved.

Tentang Kami

Redaksi

Pedoman Media Siber

Disclaimer

Iklan

RSS

Kontak

vipqiuqiu99 vipqiuqiu99