Sabtu, 19 Jan 2019

Puluhan Juta Anggota Keluar dari BPJS Ketenagakerjaan

Oleh: alex
Senin, 11 Des 2017 05:21
BAGIKAN:
istimewa.
BPJS Ketenagakerjaan.
SINGAPURA (EKSPOSnews):  Sejumlah 15 juta pekerja berhenti dari kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan yang berdampak menggerus kepesertaan baru sebanyak 18 juta orang.

Dirut BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto di Singapura, menjelaskan penambahan peserta aktif selama 2017 memang tak terlihat menonjol meskipun sudah melebihi target per data pada November 2017.

Terdapat 44,3 juta pekerja yang terdata menjadi peserta BPJS-TK dan 25,4 juta di antaranya peserta aktif atau tumbuh 15,5 persen. Artinya, angka tersebut sudah mencapai 100,8 persen dari target tahun 2017.

Tingginya angka yang keluar dari BPJS-TK, kata Agus, bisa dimaknai mereka berhenti kerja karena berbagai alasan. Umumnya, kurang dari lima persen di antaranya keluar karena meninggal, sakit permanen atau pensiun.

Ketika menjawab pertanyaan, apakah mereka keluar karena kontrak selesai dan tidak meneruskan kepesertaan, Agus membenarkan kemungkinan tersebut.

Sistem ketenagakerjaan saat ini memungkinkan perusahaan merekrut pekerja dengan sistem kontrak selama dua tahun, lalu bisa diperpanjang selama satu tahun untuk kemudian ditentukan statusnya apakah akan diangkat jadi pekerja tetap atau diberhentikan.

Sementara jumlah perusahaan yang tercatat sebagai peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan sudah mencapai 445.000 atau tumbuh 23,7 persen dari capaian tahun lalu pada periode yang sama, dan telah mencapai 104,7 persen dari target 2017.

Pekerja Migran Terkait kepesertaan pekerja migran, Agus mendapat perkembangan menggembirakan karena sebagian pekerja migran Indonesia di negeri pulau itu ingin ikut program Jaminan Hari Tua (JHT). Perkembangan baik lainnya, dalam dialog dengan sejumlah majikan di Singapura menyatakan bersedia membayar iuran JHT.

"Ini kondisi yang menggembirakan, pekerja migran ingin ikut JHT, majikan bersedia membayarnya," ujar Agus di sela acara peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura di Fort Canning, Singapura, Minggu 10 Desember 2017.

Diakuinya, kesediaan majikan tersebut belum bisa mewakili semua majikan di negeri berlambang Merlion (singa berbadan ikan) itu. Sementara, Permenaker Nomor 07/2017 tentang Jaminan Sosial bagi pekerja migran menyatakan kepesertaan JHT bersifat sukarela (tidak wajib).

"Kondisi ini menjadikan kita harus lebih kreatif untuk membuat skema yang dapat menjawab harapan dan keinginan semua pihak," ucap Agus.

Saat ini terdapat 78.789 pekerja migran yang sudah terdaftar di BPJS-TK yang bekerja di sejumlah negara tujuan penempatan. Mereka sebagian besar mengikuti dua program saja, yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 3 bulan lalu

    Lion Air Berangkatkan Keluarga Korban ke Jakarta

    JAKARTA (EKSPOSnews): Lion Air Group telah memberangkatkan sedikitnya 166 orang dari keluarga korban ke Jakarta pada Senin (29/10) untuk mengidentifikasi korban."Lion Air sudah menerbangkan keluarga p

  • 3 bulan lalu

    Pembunuh Satu Keluarga di Aceh Divonis Mati

    BANDA ACEH (EKSPOSnews): Majelis hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh memvonis terdakwa Ridwan (22), warga Aceh Jaya, dengan hukuman mati karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidan

  • 4 bulan lalu

    Keluarga Gus Dur Dukung Jokowi-Ma'ruf

    JAKARTA (EKSPOSnews): Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf, Hasto Kristiyanto, menilai, keputusan Yenny Wahid beserta Gusdurian yang menyatakan mendukung pasangan

  • 4 bulan lalu

    Keluarga Almarhum Sudiaro Harefa terima Jaminan Kematian

    KABANJAHE (EKSPOSnews): Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Kantor Cabang Perintis Karo Kabanjahe Sumatera Utara berdasarkan Undang undang no 24 tahun 2011 kembali menyerahkan Ja

  • 5 bulan lalu

    Bagaimana Membangun Keluarga Bahagia?

    JAKARTA (EKSPOSnews): Tingkat kebahagiaan dan keharmonisan sebuah keluarga memang tidak bisa diukur dengan angka, namun dapat dirasakan, menurut psikolog Intan Erlita."Bagaimana kita menikmati pengala

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99