Kamis, 22 Agu 2019

Kewiraushaaan Perempuan Indonesia Tertinggal

Oleh: marsot
Kamis, 28 Mar 2019 04:08
BAGIKAN:
istimewa.
Perempuan.
JAKARTA (EKSPOSnews): Laporan yang disusun Ketua Angel Investment Network Indonesia (ANGIN) Valencia Dea menunjukkan bahwa kewirausahaan perempuan Indonesia tertinggal dibandingkan Kanada.

Laporan yang berfokus pada UKM dan perusahaan rintisan (startup) itu ditulis oleh Dea selama dua bulan magang di The Conference Board of Canada pada musim semi 2018, dengan dukungan Proyek Bantuan Sektor Perdagangan dan Swasta (TPSA) Kanada-Indonesia serta Kementerian Perdagangan RI.

“Saat ini, UKM milik perempuan hanya berkontribusi 9,1 persen dari PDB Indonesia pada 2013. Mengatasi rintangan yang menghambat perempuan untuk memulai dan mengembangkan bisnis akan menghasilkan manfaat ekonomi lebih luas,” kata Dea dalam peluncuran laporan tersebut di Jakarta, Rabu 27 Maret 2019.

Di Indonesia, usaha kecil milik perempuan menghasilkan 36,5 miliar dolar AS dan usaha menengah milik perempuan menghasilkan 34,6 miliar dolar AS.

Sementara UKM milik perempuan Kanada berkontribusi sebesar 148 miliar dolar Kanada terhadap kegiatan ekonomi, yang menempati sekitar 8,4 persen dari PDB Kanada pada 2011.

UKM milik perempuan di Indonesia cenderung bergerak di sektor jasa ketimbang sektor manufaktur, kecuali produksi makanan.

Kehadiran UKM perempuan menonjol di layanan lain, perdagangan ritel, dan perdagangan grosir, namun kurang di sektor-sektor seperti bahan kimia atau plastik, teknologi informasi, mesin dan peralatan, serta logam atau mineral lain.

Seperti di Indonesia, UKM milik perempuan Kanada sebagian besar terkonsentrasi di industri jasa terutama bidang informasi, pengelolaan limbah, perawatan kesehatan dan rekreasi, serta perdagangan ritel, namun memiliki kehadiran yang minimum di berbagai sektor yang didominasi laki-laki seperti konstruksi, perdagangan grosir, dan manufaktur.

Tingkat keseluruhan partisipasi UKM Indonesia di pasar ekspor global rendah. Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa kurang dari 1 persen UKM mengekspor produknya.

Saat ini, tidak ada data partisipasi ekspor terpilah menurut gender, namun Presiden Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) memperkirakan hanya 1 persen dari anggotanya, yang berjumlah lebih dari 30.000 orang, yang mampu mengekspor produknya.

Dibandingkan Indonesia, jumlah UKM milik perempuan Kanada yang terlibat dalam kegiatan ekspor jauh lebih tinggi yaitu 11,1 persen.

Kendati demikian, menurut kajian itu, perempuan pelaku UKM di Indonesia maupun Kanada sejatinya menghadapi berbagai tantangan dalam memulai dan mengembangkan bisnisnya, terutama norma sosial budaya dan akses permodalan.

“Perempuan menghadapi double burden yang menempatkan mereka pada beban ganda sebagai penanggungjawab urusan rumah tangga sehingga memiliki keterbatasan waktu dan mobilitas untuk berjejaring maupun berbisnis,” tutur Dea.

UKM di Indonesia adalah segmen yang kurang terlayani di bidang pembiayaan. Saat ini, institusi keuangan formal lebih menargetkan perusahaan mikro atau besar, ditambah fakta bahwa perbankan memberlakukan berbagai aturan yang rumit untuk pemberian modal meskipun pemerintah telah menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi 7 persen pada 2018.

Terbatasnya ketersediaan modal juga menjadi hambatan utama yang ditemukan di Kanada, salah satu penyebabnya adalah pengusaha perempuan dan lembaga keuangan memiliki pandangan berbeda tentang pertumbuhan.

Di Kanada, perempuan seringkali memilih memulai usaha kecil dan mengambil pinjaman sedikit untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang usahanya, sementara lembaga keuangan umumnya enggan memberikan pinjaman kecil. 

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • satu minggu lalu

    Penyelundupan Barang China Rugikan Indonesia Triliunan Rupiah

    JAKARTA (EKSPOSnews): Polda Metro Jaya berhasil menggagalkan penyelundupan jutaan produk ilegal asal China dan potensi kerugian negara akibat masuknya barang-barang ilegal ini diperkirakan mencapai Rp

  • 2 bulan lalu

    Jepang Buka Lowongan Bagi Calon Pekerja Migran Indonesia

    MANADO (EKSPOSnews): Peluang kerja ke luar negeri terbuka lebar bagi calon-calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal Sulut yang ingin bekerja di negara Jepang."Hal ini menyusul ditandatanganinya Memor

  • 2 bulan lalu

    Aroma Kopi Indonesia di Jerman

    JAKARTA (EKSPOSnews): Booth kopi Indonesia kembali menjadi magnet di ajang pameran kopi internasional “specialty coffee internasional, World of Coffee 2019 Berlin, Jerman, yang berlangsung dari tang

  • 3 bulan lalu

    Semen Indonesia Group Santuni Anak Yatim di Aceh

    BANDA ACEH (EKSPOSnews): Semen Indonesia Group (SMIG) memberikan santunan kepada 231 anak yatim yang berada di daerah operasi perusahaan tersebut yakni Lhoknga dan Leupung Kabupaten Aceh Besar, Provin

  • 3 bulan lalu

    Peta Hutan Adat di Indonesia

    JAKARTA (EKSPOSnews): Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan Peta Hutan Adat dan Wilayah Indikatif Hutan Adat Fase I untuk menjamin usulan-usulan di daerah yang telah memiliki

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99