Kamis, 27 Jun 2019

Hilirisasi Batubara Tekan Impor Elpiji

Oleh: alex
Minggu, 03 Mar 2019 15:20
BAGIKAN:
istimewa.
Batubara.
TANJUNG ENIM (EKSPOSnews): Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menyindir jajaran direksi PT Bukit Asam (PTBA) jika hanya mampu menggali batubara untuk dijual tanpa adanya upaya melahirkan produk turunan atau hilirisasi.

"Jika cuma gali, tidak perlu ada Arviyan yang pintar (Dirut PT BA), cukup anak buah saya saja," kata Ignasius dalam sambutannya pada acara Pencanangan Hilirisasi Batubara di Kawasan Ekonomi Khusus PTBA "BACBSEZ" Tanjung Enim, Sumatera Selatan, Minggu 3 Maret 2019.

Pada acara yang juga dihadiri Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto itu Ignasius mengakui bahwa tidak banyak kegiatan pertambangan di Indonesia yang memiliki semangat untuk hilirisasi.

PT Bukit Asam baru memutuskan hilirisasi setelah 100 tahun beroperasi menggali batu bara di kawasan Tanjung Enim.

Menurutnya, kondisi ini disebabkan PTBA terlalu khawatir untuk menjadi pioner. "Jika banyak khawatirnya maka tidak akan jadi," kata dia.

Namun dengan diluncurkannya pencanangan hilirisasi batubara maka menjadi tongak sejarah baru hilirisasi batubara di Indonesia. PT Bukit Asam beserta dua BUMN lainnya PT Pertamina dan PT Pupuk Sriwijaya beserta perusahaan swasta Chandra ASN sepakat melakukan hilirisasi batubara.

Empat pabrik direncanakan di kawasan seluas 300 hektare Tanjung Enim dengan target selesai November 2022. Pertama pabrik gasifikasi batubara yang mengubah batubara kalori rendah menjadi syngas.

Tiga pabrik lainnya yakni pabrik hilirisasi produk batubara, yaitu pabrik pengolahan syngas menjadi dimethyl ether (dme) untuk menghasilkan elpiji bekerja sama dengan PT Pertamina. Kemudian, pabrik pengolahan syngas menjadi urea untuk menghasilkan pupuk berkerja sama dengan PT Pupuk Sriwijaya, dan pabrik pengolahan syngas menjadi polypropylene sebagai bahan baku plastik bekerja sama dengan perusahaan swasta Chandra ASN.

Ia berharap dengan lahirnya hilirisasi, terutama produk dme diharapkan dapat mengurangi impor elpiji karena setiap tahun negara mengeluarkan sekitar Rp40 triliun hingga Rp50 triliun untuk mendapatkan 4,5-4,7 juta ton elpiji. Begitupula dengan impor bahan kimia yang tergolong masih tinggi seperti plastik dan bahan plastik mencapai 94,4 juta dolar AS pada Januari 2019.

Setidaknya, melalui proyek bersama ini juga bisa dikurangi impor elpiji, setidaknya sekitar 1 juta ton pada tahun pertama dengan cara mencampurkan dme dari produk hilirisasi batubara.

"Ini sangat mungkin karena defosit tambang batubara ini untuk lapisan 1 (B1) ada 4 miliar ton, dan B2 mencapai 6 miliar ton, ini artinya bisa 250 tahun bertahan," kata dia.


Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 7 bulan lalu

    Hukum Berat Pengoplos Elpiji

    MEDAN (EKSPOSnews): Manajemen Pertamina meminta pihak Kepolisian melakukan penindakan hukum secara tegas dan tuntas kepada pelaku penyelewengan elpiji 3 Kg."Manajemen mengapresiasi dan mendukung penga

  • 8 bulan lalu

    Pertamina Tambah Pasokan Elpiji di Batam

    BATAM (EKSPOSnews): PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) I menambah pasokan elpiji ukuran 3 Kg di Kota Batam Kepualuan Riau pada Jumat, (2/11), Sabtu (3/11) dan Senin (5/11) untuk m

  • 11 bulan lalu

    Elpiji Kosong di Pulau Enggano

    BENGKULU (EKSPOSnews): Warga di enam desa yang berada di Pulau Enggano Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu mengeluhkan kekosongan pasokan bahan bakar elpiji atau gas di gudang koperasi pemasok

  • 12 bulan lalu

    Warga Lebih Memilih Elpiji Malaysia

    PUTUSSIBAU (EKSPOSnews): Warga perbatasan Indonesia - Malaysia yang berada di wilayah Kapuas Hulu Kalimantan Barat lebih memilih elpiji dari negara tetangga dengan beberapa pertimbangan."Elpiji Malays

  • 12 bulan lalu

    Pertamina Tambah Pasokan Elpiji

    MEDAN (EKSPOSnews): PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region atau MOR I menambah pasokan elpiji 3 kg sebanyak 85.120 tabung untuk Kabupaten Asahan, Sumatera Utara guna memenuhi kebutuhan daer

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99