Senin, 15 Okt 2018

Wah...Ada Monopoli Gula

Oleh: Jallus.
Senin, 18 Sep 2017 05:16
BAGIKAN:
istimewa.
Gula.
KUDUS (EKSPOSnews): Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengadukan dugaan adanya monopoli dalam penjualan gula pasir ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), kata Sekretaris Jenderal DPN APTRI M. Nur Khabsyin.

"Laporan ke KPPU tersebut kami sampaikan pada 15 September 2017 beserta sejumlah alasan dan bukti yang kami miliki," ujarnya di Kudus, Minggu 17 September 2017.

Melalui laporan tersebut, lanjut dia, APTRI juga merasa keberatan dengan adanya aturan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian lewat surat nomor S-202/M.EKON/08/2017 bahwa yang membeli gula petani dan gula pabrik gula milik BUMN hanya Bulog dangan harga Rp9.700 per kilogram.

Kebijakan tersebut, lanjut dia, mengindikasikan ada monopoli gula petani oleh Perum Bulog, karena pemerintah mengeluarkan kebijakan gula petani dan gula pabrik gula milik BUMN dibeli Bulog seharga Rp9.700 per kilogramnya.

Hal itu, kata dia, berdampak pada pemasaran gula tani hanya bisa dilakukan oleh Perum Bulog, sehingga pedagang tidak bisa membeli langsung ke petani, karena harus melalui Bulog.

"Pedagang nantinya juga hanya bisa menjual gula secara eceran, tidak dalam bentuk curah lagi," ujarnya.

Menurut dia, kebijakan tersebut tentu merugikan petani, karena petani merasa dipaksa harus menerima harga pembelian gula sebesar Rp9.700/kg.

Patokan harga jual gula tersebut, kata dia, masih di bawah biaya produksi sebesar Rp10.600/kg.

Ia menduga, praktik monopoli penjualan gula pasir tersebut bertentangan dengan Undang-undang nomor 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Pada pasal 17, dijelaskan bahwa pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

Selain itu, lanjut dia, pada ayat (2) dijelaskan bahwa pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) jika barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada substitusinya.

"Pelaku usaha lain juga tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama," ujarnya.


Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 5 hari lalu

    Anak Mengonsumsi Terlalu Banyak Gula Cenderung Brutal

    JAKARTA (EKSPOSnews): Anak yang mengonsumsi terlalu banyak gula itu, menurut penelitian, cenderung menjadi brutal, minum alkohol, dan merokok.Tinjauan dari penelitian yang sudah ada menemukan bahwa ma

  • 4 minggu lalu

    Mabes Polri Kembangkan Kasus Perembesan Gula Rafinasi

    JAKARTA (EKSPOSnews): Mabes Polri terus mengembangkan kasus perembesan gula rafinasi yang seharusnya untuk industri namun dijual ke pasaran pascapenahanan satu tersangka yang berinisial KPW."Sampai se

  • satu bulan lalu

    Kapal Penyelundup Gula Pasir Malaysia Ditangkap

    NUNUKAN (EKSPOSnews): Aparat Kepolisian Air Kepolisian Daerah Kalimantan Utara menangkap kapal pengangkut puluhan ton gula pasir di Perairan Indonesia di Kabupaten Nunukan pada Rabu (5/9) sekitar puku

  • satu bulan lalu

    PTPN XI Masuk Pasar Ritel Gula

    SURABAYA (EKSPOSnews): PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X mulai merambah pasar ritel Indonesia dengan peresmian produk gula ritel di Pabrik Gula (PG) Pesantren Baru, Kediri, Jawa Timur, dengan merek dag

  • satu bulan lalu

    Hilangkan Monopoli Usaha di Kalimantan Barat

    PONTIANAK (EKSPOSnews): Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pontianak Andreas Acui Simanjaya berharap Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar Sutarmidji-Ria Norsan yang baru dilantik untuk masa bak

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99