Senin, 26 Feb 2018

Sawit Masa Depan Ekonomi Indonesia

Oleh: Alex
Jumat, 19 Mei 2017 06:18
BAGIKAN:
istimewa
Perkebunan sawit.
JAKARTA (EKSPOSnews): Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mendukung industri perkebunan kelapa sawit, sebab industri tersebut terbukti telah memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, mendatangkan devisa dan penyerapan tenaga kerja.

"Saya pikir pemerintah memiliki komitmen yang besar pada industri sawit. Kita tahu semua bahwa sawit terbukti memberikan kontribusi positif bagi perekonomian, mendatangkan devisa, penyerapan tenaga kerja dan juga memajukan perekonomian di daerah-daerah terpencil," ujar Kepala Staf Kepresidenan Indonesia Teten Masduki pada Perayaan 2 Abad Kebun Raya Bogor di Bogor, Kamis 18 Mei 2017.

Di saat terjadi perlambatan perekonomian dunia, lanjutnya, sawit menjadi penyelamat perekonomian Indonesia, padahal hilirisasi sawit belum optimal, lantaran selama ini Indonesia masih mengandalkan ekspor dalam bentuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah meminta para pelaku usaha agar segera melakukan hilirisasi industri sawit. Sebab dengan demikian, nilai tambah industri sawit akan banyak dirasakan bangsa Indonesia.

"Dari sisi pengusaha tentu saja akan mendapatkan tambahan keuntungan, sementara beban pemerintah akan berkurang karena hilirisasi ini akan menyerap banyak tenaga kerja," katanya.

Teten menyatakan, komitmen pemerintah tersebut juga tercermin dari perjuangan Presiden Joko Widodo bersama para menterinya meyakinkan Uni Eropa bahwa budidaya perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah dipersyaratkan dalam undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Belum lama ini Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi yang menuding bahwa sawit Indonesia terkait erat dengan isu pelanggaran HAM, korupsi, pekerja anak dan penghilangan hak masyarakat adat.

"Saya kira resolusi parlemen Eropa itu tidak tepat. Sebab Pemerintah Indonesia melalui peraturan-peraturan yang dikeluarkan telah mendorong agar praktik budidaya perkebunan sawit mengikuti kaidah-kaidah lingkungan dan konservasi alam," katanya.

Oleh karena itu, menurut Kepala Staf Kepresidenan itu pemerintah akan terus berupaya meyakinkan Eropa bahwa perkebunan sawit di Indonesia telah mengacu kepada praktik perkebunan yang berkelanjutan.

"Namun demikian saya juga mengimbau kepada para petani sawit maupun pelaku usaha agar mematuhi dan taat pada regulasi yang telah ditetapkan pemerintah," katanya.

Sementara itu, pada perayaan 200 tahun Kebun Raya Bogor itu Ketua Umum Gabungan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyerahkan bibit induk sawit Dura Deli kepada Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Didik Widyatmoko.

Joko mengungkapkan, bibit induk ini merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) secara terstruktur sejak awal 1900.

Tanaman Dura ini, tambahnya, menjadi pohon induk (mother palm) untuk produksi benih kelapa sawit unggul. Saat ini generasi Dura Deli yang digunakan dalam proses produksi benih di PPKS merupakan generasi keenam dari pohon Dura yang ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848," katanya.

Sementara itu, Didi Widyatmoko menjelaskan sejarah kelapa sawit di Indonesia bermula dari empat bibit yang diintroduksi dari Bourbon atau Mauritius pada Februari 1848 oleh DT Pryce. Sementara dua bibit yang lainnya diintroduksi dari Amsterdam pada Maret 1848.

Diduga dua bibit tersebut juga berasal dari kelompok yang sama dengan bibit yang berasal dari Bourbon. Keempat bibit sawit tersebut kemudian ditanam di Buitenzorg Botanical Garden (Kebun Raya Bogor) pada 1848.

Sementara itu, pengembangan sawit secara komersial di Indonesia dibangun pada 1911 oleh M Adrien Hallet, seorang warga negara Belgia di Sumatera bagian timur, mencakup Pulu Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh).

"Bermula dari empat bibit yang ditanam di Kebun Raya Bogor itulah, saat ini sawit telah berkembang menjadi industri penting di Indonesia. Bahkan telah menjadi penghasil devisa terbesar bagi Indonesia," kata Joko Supriyono

  Berita Terkait
  • 4 hari lalu

    Ibu-Ibu di Indonesia Doyak Bermedsos

    JAKARTA (EKSPOSnews): Sebanyak 60 persen masyarakat Indonesia terhubung dengan internet pada 2018 dan satu dari empat pengguna internet di Indonesia atau 25 persen merupakan seorang ibu, berdasarkan p

  • satu minggu lalu

    Tarian Indonesia Pukau Ribuan Penonton

    LONDON (EKSPOSnews): Penampilan tarian Indonesia berhasil memukau 6000 penonton yang hadir dalam acara penutupan Festival Internacional del Folclor, yang merupakan rangkaian acara Viva Ambato yang ke-

  • 2 minggu lalu

    Biodiesel Berbahan Baku Sawit Masih Sulit Masuk ke Uni Eropa

    JAKARTA (EKSPOSnews):Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menilai kampanye negatif minyak kelapa sawit hingga penolakan masuknya produk tersebut ke Eropa akan mempersulit ekspor ke benua biru

  • 2 minggu lalu

    Pupuk Indonesia Menghadapi Gempuran Pupuk Tiongkok

    KULON PROGO (EKSPOSnews): Perseroan Terbatas Pupuk Indonesia berupaya meningkatkan kualitas dan produksi pupuk seiring gempuran pupuk Tiongkok masuk ke Indonesia Direktur SDM dan Umum PT Pusri Palemba

  • 3 minggu lalu

    Produsen Benih Siap Amankan Program Peremajaan Sawit

    JAKARTA (EKSPOSnews): Kalangan produsen benih siap mengamankan program peremajaan atau replanting perkebunan sawit rakyat 2018 seluas 185 ribu hektare melalui Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99