Selasa, 12 Des 2017

Petani Tebu Ancam Unjuk Rasa

Oleh: Marsot
Sabtu, 19 Agu 2017 06:17
BAGIKAN:
istimewa
Petani tebu.
KUDUS (EKSPOSnews): Petani tebu mengancam melakukan aksi unjuk rasa jika pemerintah dinilai tidak berpihak kepada mereka, karena beberapa kebijakan yang ada dinilai merugikan petani tebu.

"Alasan hingga petani tebu berencana melakukan unjuk rasa, karena sejumlah upaya yang dilakukan belum juga membuahkan hasil," kata Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M. Nur Khabsyin dihubungi dari Kudus, Jumat 18 Augustus 2017.

Padahal, lanjut dia, sebelumnya sudah menempuh jalan diplomasi dalam menyampaikan aspirasi, keluhan, jeritan dan permasalahan petani tebu kepada pengambil kebijakan di Jakarta.

Akan tetapi, lanjut dia, hingga kini belum ada hasil yang diharapkan, sehingga melalui pertemuan yang digelar hari ini (15/8) di Surabaya bersama pengurus DPD dan DPC APTRI se-Indonesia disepakati untuk mengadakan unjuk rasa.

Rencananya, kata dia, akan digelar pada 28 Agustus 2017 di Jakarta.

Sementara aksi permulaan, kata dia, digelar dengan memarkir truk tebu di tepi jalan utama di setiap pabrik gula pada tanggal 24 Agustus 2017.

Aksi memarkir kendaraan tersebut, rencananya untuk wilayah Jateng akan digelar di Kabupaten Pati, Sragen, Tegal dan Brebes.

Melalui penyampaian aspirasi secara terbuka tersebut, diharapkan pemerintah dalam mengambil kebijakan agar berpihak kepada petani tebu dan pergulaan nasional.

Petani tebu juga menuntut agar gula tani dibeli dengan harga Rp11.000 per kilogram dengan mempertimbangkan hasil rata-rata lelang tahun lalu serta mempertimbangkan biaya pokok produksinya yang mencapai Rp10.600/kg.

Tuntutan lainnya, yakni meminta peredaran gula impor di pasaran juga dihentikan.

"Kami juga menuntut penghentian rembesan gula rafinasi," ujarnya.

Pada aksi yang akan digelar nanti, katanya, petani tebu juga akan menagih janji kompensasi dari impor, yakni jaminan rendemen 8,5 persen tahun 2016, kompensasi rendemen rendah tahun 2017, revitalisasi pabrik gula, dan tuntutan agar pabrik gula tidak ditutup sebelum mendirikan pabrik gula baru.

Tuntutan lainnya, yakni terkait pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen, karena berpengaruh terhadap tingkat penyerapan gula tani.

"Hingga kini, gula petani belum laku dan masih tersimpan di gudang karena adanya kebijakan pengenaan pajak pertambahan nilai tersebut," ujarnya.


Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 4 bulan lalu

    Petani Tebu Cirebon Kesulitan Jual Hasil Panen

    CIREBON (EKSPOSnews): Para petani tebu asal Cirebon, Jawa Barat, yang tergabung pada Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengaku kesulitan menjual hasil panen mereka, dikarenakan beredarnya

  • 5 bulan lalu

    Unjuk Rasa ke Istana Presiden, Status Dosen UMRAH Tak Jelas

    TANJUNGPINANG (EKSPOSnews): Pengangkatan puluhan dosen dan staf Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Kepulauan Riau, menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kontrak (PPPK), di

  • 5 bulan lalu

    Sebagian Pekerja Pertamina Akan Unjuk Rasa

    JAKARTA (EKSPOSnews): Sebagian pekerja Pertamina Patra Niaga anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang tergabung dalam Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) akan melakukan unjuk ra

  • tahun lalu

    Massa Pengunjuk Rasa Masuki Bundaran Hotel Indonesia

    JAKARTA (EKSPOSnews): Massa pengunjuk rasa yang menuntut penegakan hukum bagi pelaku penistaan agama memasuki kawasan Bundara Hotel Indonesia. Massa yang mengaku berasal dari gabungan organisa

  • tahun lalu

    Mahasiswa Nommensen Unjukrasa ke Mapolrestabes Medan

    MEDAN (EKSPOSnews): Puluhan mahasiswa Universitas HKBP Nomensen berunjukrasa ke Mapolrestabes Medan, mengecam dugaan kriminalisasi terhadap Dekan Fakultas Hukum Martin Simangunsong ke Satuan Reskri

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2017 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99