Sabtu, 30 Mei 2020

Pemprov Sumut Akan Tambah Modal PT Perkebunan Sumut

Senin, 27 Jun 2016 10:38
BAGIKAN:
MEDAN (EKSPOSnews): Pemerintah Provinsi Sumatera Utara akan menambah penyertaan modal kepada PT Perkebunan Sumut, asalkan perusahaan dapat meningkatkan kinerjanya.

Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) belum lama ini, hampir seluruh indikator kinerja Perkebunan Sumut seperti produksi dan aset tercatat merosot dibandingkan dengan tahun lalu.

Tercatat, produk utama perusahaan yakni CPO menurun menjadi 50.644,7 ton pada akhir tahun lalu dari 53.806,3 ton pada 2014. Rata-rata penurunan produksi tersebut mencapai 11% selama 3 tahun terakhir.

Tren pendapatan perusahaan dari penjualan produksi tersebut juga memenurun menjadi hanya Rp396,98 miliar pada 2015, dibandingkan dengan Rp505,33 miliar pada 2014.

Perolehan laba bersih juga ambruk hanya Rp16,96 miliar dari Rp21,78 miliar pada 2014. Untuk total aset pada tahun lalu menurun 1,41% yakni Rp555,7 miliar dari Rp563,67 miliar.

Produksi TBS justru meningkat menjadi 122.489 ton dari 115.955 ton. Produksi palm kernel turun 5,25% menjadi 11.784 ton pada 2015 dari 12.437 ton pada 2014.

Produksi karet juga merosot menjadi 396 ton dari 450 ton.

Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi menegaskan penambahan penyertaan modal tidak akan berguna jika Perkebunan Sumut tak bisa menjamin bisa meningkatkan kinerjanya.

"Kalau tidak maksimal, saya tidak akan setujui. Saya berharap dalam situasi sulit direksi dan karyawan bekerja maksimal. Kerja harus extraordinary," ujar Erry belum lama ini.

Dia menuturkan, direksi harus segera mencari jalan keluar akibat fluktuasi harga komoditas utama yakni karet dan CPO di dunia.

"Walaupun ada kendala, harus tetap ada usaha. Kalau turun terus seperti ini, saya akan lakukan evaluasi. Demikian juga komisaris, saya harap benar-benar melakukan pengawasan. Saya melihat semua bekerja belum maksimal," tambahnya.

Direktur Utama Perkebunan Sumut Darwin Nasution menjelaskan berdasarkan Keputusan Mendagri, perusahaan masih dalam kategori sehat atau memiliki nilai 69,5. Kendati demikian, capaian ini memang merosot dari tahun lalu 75,36.

"Kami mengalami berbagai kendala selama tahun lalu. Pertama harga rata-rata CPO dan kernel masih cenderung menurun dari sebelumnya. Kedua, kenaikan upah tenaga kerja pada tahun lalu cukup tinggi dan biaya sarana produksi pun melonjak," papar Darwin.(em/ril)

  Berita Terkait
  • tahun lalu

    PT Solusi Bangun Andalas Salurkan Modal Usaha Lewat CSR

    BANDA ACEH (EKSPOSnews): PT Solusi Bangun Andalas (SBA) atau pabrik semen di Lhoknga, Aceh Besar, terus mendorong serta membina masyarakat di lingkungan perusahaan tersebut guna meningkatkan ekonomi m

  • 2 tahun lalu

    Sejumlah Investor Tertarik Tanam Modal di Sektor Air Bersih

    BANDA ACEH (EKSPOSnews): Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengatakan beberapa perusahaan tertarik untuk menanam modal di sektor air bersih ibu kota Provinsi Aceh tersebut."Sudah ada beberapa perus

  • 2 tahun lalu

    Bank Mandiri Bantu Modal Usaha di Papua

    SORONG (EKSPOSnews): Bank Mandiri, memberikan bantuan modal usaha bagi wanita atau mama-mama asli Papua yang tergabung dalam pelaku usaha kecil dan menengah mitra kerja bank tersebut.Bantuan modal usa

  • 2 tahun lalu

    Timah Bantu Modal Usaha Pedagang Sembako

    PANGKALPINANG (EKSPOSnews): PT Timah Tbk. membantu modal usaha pedagang sembako di Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar Rp50 juta, sebagai kepedulian perusahaan mengembangkan

  • 2 tahun lalu

    BRI Diminta Permudah Permodalan UMKM

    BINJAI (EKSPOSnews): Wali kota Binjai Muhammad Idaham meminta Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk meningkatkan bantuan serta mempermudah kredit bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di daerah itu.H

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2020 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99