Jumat, 21 Jul 2017

Hutan Rusak, Harimau Masuk Perkampungan

Oleh: Jallus
Senin, 05 Jun 2017 09:11
BAGIKAN:
istimewa
Harimau Sumatera.
MEDAN (EKSPOSnews): Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara menyatakan kasus seekor harimau sumatera (panthera tigris sumatrae)" yang masuk ke perkampungan warga di Desa Terang Bulan, Kabupaten Labuhan Batu Utara akibat terjadinya kerusakan hutan.

"Satwa yang dilindungi pemerintah itu, sulit untuk mendapatkan makanan di lingkungan hutan tersebut, sehingga harimau itu kesasar masuk ke perkampungan masyarakat," kata Direktur Eksekutif Walhi Sumut Dana Tarigan di Medan, Senin 5 Juni 2017.

Harimau masuk ke perkampungan tersebut, menurut dia, bisa saja karena terdesak dan kehabisan makanan di hutan. Kawasan hutan di Kabupaten Labuhan Batu Utara saat ini banyak berubah fungsi dan dijadikan perkebunan sawit oleh para pengusaha.

"Jadi, karena dibukanya areal hutan tersebut untuk perkebunan sawit maka harimau itu juga kehilangan tempat tinggal, dan sulit memperoleh makanan seperti kancil, rusa, serta binatang lainnya," ujar Dana.

Ia menyebutkan, hal tersebut dapat dibuktikan dengan masuknya harimau ke perkampungan dan memangsa hewan peliharaan bebek, sehingga akhirnya satwa dilindungi itu tewas ditombak oleh warga.

Masyarakat terpaksa membunuh harimau itu, karena merasa dirugikan dan ternak mereka banyak yang hilang, serta diduga akibat dimakan satwa liar tersebut.

"Masyarakat juga, tidak ingin membunuh harimau itu, karena binatang tersebut harus dijaga dan dilindungi oleh Undang-Undang (UU)," ucapnya.

Dana menambahkan selama ini jarang harimau berkeliaraan di daerah perkampungan karena areal hutan masih terjaga dan belum ada yang mengalami kerusakan.

Namun, saat ini sebahagian kawasan hutan telah banyak yang dijadikan perkebunan sawit oleh sejumlah pengusaha, tanpa memperhatikan lagi habitat harimau dan satwa lainnya seperti gajah, rusa, beruang, dan binatang lainnya.

Sehubungan dengan itu, pemerintah pusat dan Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLH) juga perlu mempertimbangkan secara arif dan bijaksana, dalam pemberian izin membuka areal hutan dijadikan perkebunan sawit.

"Pemerintah juga diharapkan dapat mengkaji lebih dalam lagi fungsi hutan tersebut, sehingga tidak merusak habitat satwa yang berada di sana, ekosistem, dan termasuk lingkungan hidup," kata Pemerhati Lingkungan itu.

Sebelumnya, Balai besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Provinsi Sumatera Utara juga membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus pembunuhan seekor harimau sumatera di Dusun Indah, Desa Terang Bulan, Kecamatan Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kamis (25/5).

"Saat ini tim sudah berada di lokasi pembunuhan harimau sumatera itu untuk mengumpulkan keterangan dari warga terkait penyebab pembunuhan satwa berusia sekira 6-7 tahun itu," kata Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I BBKSDA Sumut, Mukhtar Amin Ahmadi, beberapa waktu lalu.

Tim di sana berangkat, menurut dia, untuk menyelidiki dan menangani kasus tersebut.

"Harimau tersebut, tewas ditombak warga karena mengejar bebek yang ada di perkampungan," ujar Ahmadi.

Ia menyebutkan, bisa saja harimau yang masih muda itu, tidak sanggup bersaing dengan harimau lainnya, sehingga mencari mangsa hewan ternak milik warga.

Pada bagian kaki harimau yang malang itu, juga ditemukan bekas luka akibat jeratan "Diduga satwa dilindungi tersebut pernah terjerat sehingga mengalami luka parah," katanya.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  komentar Pembaca

Copyright © 2009 - 2017 eksposnews.com. All Rights Reserved.

Tentang Kami

Redaksi

Pedoman Media Siber

Disclaimer

Iklan

RSS

Kontak