Sabtu, 23 Jun 2018

Canangkan Go Global, RNI Bukukan Laba Konsolidasi Rp353 miliar

Oleh: alex
Jumat, 06 Apr 2018 21:44
BAGIKAN:
istimewa.
RNI global.
JAKARTA (EKSPOSnews): Ditengah kondisi ekonomi global yang masih belum menggembirakan serta tren perlambatan perekonomian negara-negara di Dunia belakangan ini, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), pada 2017 mampu tampil dengan kinerja yang terus membaik dari tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut terungkap dalam RNI Global Economic Outlook 2018 yang digelar pada Jumat 5 April 2018, di BSD Serpong, Tangerang Selatan.

RNI Global Economic Outlook 2018 merupakan bagian dari rangkaian acara RNI Award 2018. Hadir sebagai Pembicara dalam acara yang berformat Talk Show tersebut yaitu Direktur Utama PT Djakarta Lloyd (Persero), Suyoto dan Direktur Utama PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., Tumiyana. Menurut Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) B. Didik Prasetyo, RNI GlobalEconomic Outlook 2018baru pertama kali dilaksanakan pada tahun ini. Melalui acara ini RNI ingin lebih banyak mendengar pengalaman kedua BUMN tersebut tentang Corporate Sustainability Activities, sebagai input guna mempertahankan tren kinerja positif RNI pada tiga tahun terakhir serta untuk menggapai visi menuju pasar global.

Pada tahun buku 2017, kinerja positif RNI dibuktikan dengan perolehan laba bersih sebesar Rp353 miliar atau meningkat 43% dibanding laba bersih tahun 2016 yang berada di angka Rp 247 miliar. Pencapaian tersebut lebih tinggi 264% diatas target yang sudah dicanangkan pada tahun 2017 sebesar Rp 96 miliar.

Menurut Didik, meningkatnya laba RNI secara signifikan ditopang oleh peningkatan angka penjualan konsolidasidari keempat sektor usaha Perseroan. Pada tahun 2017, RNI mencatatkan nilai penjualan konsolidasi sebesar Rp5,15 triliun, lebih tinggi dari capaian tahun sebelumnya sebesar Rp5 triliun. Kontribusi penjualan terbesar dihasilkan dari sektor farmasi dan alat kesehatan (alkes) yang membukukan nilai penjualan sebesar Rp1,9 triliun atau meningkat 5% dari tahun 2016yang berada di angka Rp1,8 triliun.

Didik menambahkan, capaian sektor farmasi dan alkes tersebut terpaut tipis dari jumlah penjualan sektor agroindustri yang pada tahun 2017 berada di posisi Rp1,8 triliun atau meningkat 6% dari perolehan tahun 2016 sebesar Rp1,7 triliun. Dari jumlah tersebut bidang industri tebu masih menjadi andalan dengan menyumbang penjualan sebesar Rp1.5 triliun, sementara bidang perkebunan lainnya (teh, kelapa sawit, dan karet) mencatatkan penjualan Rp281 miliar. Adapun sektor perdagangan umum serta barang dan jasa lainnya berhasilmembukukan penjualan sebesar Rp1,45 triliun.

Menurut Didik, kontribusi laba terbesar RNI tahun 2017 dihasilkan dari sektor farmasi dan alkes di angka Rp165 miliar. Jumlah tersebut lebih besar Rp57 miliar atau meningkat 53% dari capaian tahun 2016 yang berada di posisi Rp108 miliar. "Meningkatnya grafik bisnis RNI juga diimbangi oleh peningkatan nilai aset perseroan, dimana pada tahun ini menyentuh angka Rp12 triliun," ungkapnya.

Aset RNI berhasil meningkat sebesar 12% dibandingkan tahun 2016 yang berada pada posisi Rp10.3 triliun. Pertumbuhan ini 7% lebih besar dari yang ditargetkan di awal tahun buku 2017 sebesar Rp11,2 triliun.

Sementara itu, dari sisi produksi, di bidang industri gula pencapaian rendemen (tingkat kandungan gula dalam tebu) tebu RNI tahun 2017 tercatat lebih tinggi 23% dari tahun 2016. Dari tiga Anak Perusahaan yang bergerak dalam industri gula secara rata-rata diperoleh rendemen sebesar 7,7 atau meningkat dari tahun 2016 yang berada pada posisi 6,3. Peningkatan ini disebabkan oleh pembenahan yang terus dilakukan khususnya dari sisi onfarm. Selain itu, daya dukung alam dan lingkungan serta infrastruktur menjadi faktor yang tidak dapat dilepaskan sehingga mampu memperlancar supply bahan baku tebu giling.

Didik mengatakan, pencapaian tersebut melengkapi capaian positif RNI dalam tiga tahun terakhir. Hal tersebut menjadi modal utama RNI untuk mulai lebih fokus mengembangkan sayap bisnis ke kancah global sesuai dengan visi dan target yang sudah dicanangkan. Sebelumnya, produk farmasi dan agroindustri RNI telah merambah pasar global dibeberapa Negara Asean Asia, dan Afrika, namun pada tahun ini manajemen menargetkan untuk membuka pasar baru di beberapa negara.

"RNI menargetkan terus membuka pasar baru bagi produk-produk RNI, beberapa Negara menjadi prioritas di antaranya Myanmar, Korea, India, dan Polandia. Responsif terhadap perubahan global dan membuka wawasan menjadi salah satu kuncinya," ujar Didik.


  Berita Terkait
  • 4 bulan lalu

    Rugi Bertahun-Tahun, Laba 2017 Hanya Rp9 juta

    JAKARTA (EKSPOSnews): PT Hotel Indonesia Natour (Persero) mencetak laba pada 2017 sebesar Rp9 juta setelah merugi dalam tiga tahun sebelumnya.Direktur Utama Hotel Indonesia Natour (HIN) Iswandi Said d

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99